Apa yang Sebaiknya Dibawa Ketika Exchange? (Fall semester, Europe)

Note: Tulisan kali ini berdasarkan pengalaman saya pribadi exchange periode September – Januari. Kebutuhan setiap orang bisa jadi lebih banyak atau lebih sedikit dari yang saya perlukan.

Sebelum exchange, saya sempat membuat daftar barang yang harus saya bawa ke Belanda. Sekarang, setelah sampai dan hidup sebentar di sini, berikut adalah daftar barang yang menurut saya perlu dan tidak perlu dibawa ketika exchange:

Perlu

  • Tolak angin (kalau nggak butuh pun biasanya orang indo di sana butuh. Quick tip, kata temen saya ini bisa jadi hangover elixir! 😛 )
  • Sambal masak ABC atau sambal bu rudi dan bumbu-bumbu instan! Kalau kangen rumah jadi bisa masak :p
  • Abon, mie instan (kalau suka mie instan)
  • Minuman-minuman sachet hangat (jahe, dsb)
  • Pembalut
  • Pakaian yang tidak terlalu bagus tapi masih layak (jadi kalau nanti pas pulang dibuang tidak sayang)
  • Kamera bagus (pasti jalan-jalan minimal sekali kan :3 )
  • Powerbank (sangat berguna ketika jalan-jalan!)
  • Tas kecil, kalau bisa sih ini sekalian menyimpan dokumen2 semacam paspor dan tiket pas berangkat 🙂
  • Universal adaptor (in case ke negara lain dengan colokan berbeda 🙂 )
  • Botol minum
  • Shower cap, sisir, gunting kuku, kuncir rambut, shower puff (mahal haha)
  • Tisu basah, tisu kering
  • Gunting, selotip
  • Sabun muka (tergantung kecocokan pada kulit dan di sini relatif lebih mahal)
  • Alat tulis
  • Hard-disk eksternal
  • Ransel, kalau bisa sekalian yang kuat untuk jalan2 juga 🙂
  • Rice cooker (kalau masih ada tempat, pas pulang bisa dijual)
  • Sandal jepit
  • Mukena dan sajadah kecil untuk yang beragama Islam
  • Baju batik (satu saja~)
  • Uang! Hahaha

Tidak Terlalu Perlu

  • Mantel lebih dari 1
  • Sarung tangan, syal, kaus kaki tebal (beli di negara tujuan sajaa)
  • Winter coat yang dibeli di Indo dengan merek tidak terlalu bagus (lebih baik beli di toko ski negara tujuan, dijamin hangat)
  • Sabun, body lotion (body lotion di Indo kurang kuat menghadapi udara kering di sini 😦 )
  • Kalkulator

Kira-kira baru segitu yang kepikiran, nanti ketika ada lagi saya update yah 🙂

Advertisements

Travelling in Holland

I have been abroad for more than four months, yet I still haven’t posted anything beneficial regarding my exchange. Therefore today I am going to explain about how to travel within the Netherlands! Yeay!

I found it difficult and expensive to travel at first here, so I think this will be very useful for those who wishes to travel cheaper in Holland 😛 Let’s start by pointing out each of the transportation options:

Bicycle

Biking everywhere!

Biking everywhere!

Everybody might suggests that if you are staying for more than 2 months, the first thing to do after finding your room in Holland is to find a really good bike, along with better chains and locks for the bike. At first I thought it was so funny having to buy a lock which costs more than the secondhand bike, but considering the probability for the bike to get stolen… we might have no option, hahaha. Let’s say we can get a good secondhand bike for 70eur, but the chain and lock can cost 20 – 40eur! So you will be grateful if you can find a bike sold together with its lock :’)

Why’s a bicycle so important anyway? As the quote saying, “When in Rome, do as the Romans do”, Dutch people choose to bike almost everywhere within the city. Particularly in Groningen, the city I live in, the southern part of the city can be reached from the northern part in just around 30 minutes biking, while if we take the bus it might take longer time! It’s an effective and healthy way to travel around the city 🙂

Tips:

  • As the wind in Holland is considered strong (especially for this super tiny thin Indonesian), we might feel as if the wind is facing us all the time. Make sure we know where the wind blows, because sometimes it’s easier to bike on the same direction as the wind (the wind pushing us is very helpful!)
  • Put your jacket or coat on when biking, especially during the autumn and winter (of course, Nasha!). One thing I find useful is to check the weather forecast before going anywhere, so that we can decide whether to bring the jacket or not.
  • It’s better not to bike anymore than biking without lamp (and get caught). It charges you 40eur if you get caught biking without lamp and without any companies who have bike lamp on. 😛

Bus

If the weather gets too cold, or if we’re lazy enough to take out the bike from the shed, a bus can be an option to travel. There is a nice app we can use to know the bus schedule and options other than google maps: 9292! It depends on what we like to use, but I prefer 9292 to check the bus here. The ticket price is different in every city (in Den Haag I have to pay 4eur for 1-hour trip with the bus, but in Groningen it’s 2eur for 1-hour trip). If we stay more than 1 month and use the bus quite frequently, it is better to have the OV-chipkaart, a top-up bus, tram, train, metro card we can use anywhere around the Netherlands. Travelling with the card is cheaper, especially in the big cities which one way trip can cost you 4eur (with the OV-chipkaart it’s usually around 1eur, depending on the distance travelled). However, since it costs 7.5eur to get the card, I suggest to buy it only if you stay more than one month here (if it’s one month stay, borrow someone’s bike!)

Tips:

  • Pay attention to the bus schedule, as some buses arrive 1-2 minutes earlier than the scheduled time.
  • If you have the personalized OV-chipkaart, there’s a possibility to get 40% discount travelling with any bus/tram/train 🙂

Train

Amsterdam Central Station

Holland is quite small to travel (compared to Indonesia, of course), so we might travel during weekend to other cities! There are several train companies, but the biggest one is NS. There is an NS mobile app named Reisplanner to help knowing the schedule and ticket price for every journey we have. Or simply go to the website and check the schedule! 🙂 Usually the longest route costs about 25eur.

What’s interesting is that NS frequently issue a one-day card (named dagkaart – day card), which we can buy in the affiliated store during several period, and use it on the designated period. For example, if there is a promo this week in store A for a dagkaart period February-April, I can buy it now and use it during February-April. However, the price sometimes change, depends on the promo, and one ticket only valid for one day.

Another way to travel cheaper is by having the group ticket. Within 10 people together, we can travel to the same destination on the same day with only 70eur (7eur for each person!). However, we have to look for 9 other people who want to travel on that exact date, and it’s not that easy to find 😛

Metro (subway)

This is a transportation option I found in Rotterdam. The system is the same as the bus, so get your OV-chipkaart prepared here! 🙂

Tram

In some cities, tram is another option other than buses (or metro). In Amsterdam, the tram takes us to most parts of the city, and it’s a much much cheaper way to travel within the capital city! The one day ticket for bus and tram in Amsterdam costs about 7eur (late 2014 price).

 

In my opinion, the public transport system is excellent. As a person who usually plans everything before doing, the exact schedule shown on the app helps a lot to calculate the estimated time to arrive at the destination. Therefore, our time is not going to be wasted 🙂

 

 

Gatel Mau Komentar: Seputar Ibu Susi dan Ratu Atut

Indonesia dikejutkan dengan terpilihnya Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014 – 2019. Sebagian orang memuji sosok pengusaha inspiratif ini, dan sebagian lain mencela karena kebiasaan merokok di depan umum dan tato beliau. Saya pribadi kagum kepada ibu Susi. Dari biodata yang saya baca di berbagai website, terlihat kemampuan bu Susi untuk menangkap peluang dengan cepat dan mengubahnya menjadi bisnis yang menguntungkan. Kemampuan bisnis beliau dapat menjadi pelajaran bagi siapapun yang ingin memulai bisnis dan investasi. Bisnis pesawat loh (iya saya lebih takjub sama bisnis pesawatnya ampun), strategis sekali untuk negara kepulauan seperti Indonesia! Ibu saya mau ketemu dong sharing ilmu :’)

Dan bukan, tulisan saya kali ini bukan untuk mengkritik tato ataupun rokok ibu Susi, walaupun saya sangat anti rokok. Itu pilihan. Sebagai makhluk sosial tidak heran jika figur publik seperti ibu Susi merokok depan umum langsung dikecam masyarakat. Semakin terkenal seseorang, semakin besar tuntutan sosial yang melingkupinya. Kembali lagi, saya ingatkan diri sendiri untuk mengambil sisi positif dari sosok ibu inspiratif ini. Ibu Susi juga pasti sudah tahu kok konsekuensi perbuatan beliau. Mari berdoa semoga beliau berhasil membawa kementerian yang dipimpinnya menjadi lebih baik 🙂

Yang membuat saya tergelitik menulis adalah ketika saya mengetahui ada gambar seperti di bawah ini:

 

 

Selama pertukaran pelajar ini, saya mengambil kelas yang sangat menarik, yaitu Behavioral Corporate Finance. Di kelas ini, saya mempelajari perilaku psikologis yang sering terjadi pada manusia ketika seharusnya berpikir rasional dalam menentukan keputusan di perusahaan. Ada satu fenomena psikologi yang menurut saya cocok menggambarkan reaksi sebagian orang terhadap foto itu. Fenomena psikologi tersebut adalah representativeness. Shefrin (2007) menjelaskan, representativeness adalah perilaku manusia untuk mengambil keputusan/kesimpulan berdasarkan pola pikir stereotypic, dengan menganggap suatu objek atau ide sebagai representasi dari suatu kelas di mana ide atau objek itu berasal.

Gambar di atas, jika tidak hati-hati dicerna, dapat mengarahkan diri kita kepada fenomena representativeness. “Daripada pakai jilbab tapi korupsi, mendingan begini, begitu… dsb”. Sebagai penganut agama Islam dan mengenakan jilbab, tentu saya tergelitik untuk beropini. Menurut saya, sangat kontroversial dan sensitif sekali, menyematkan atribut agama seperti jilbab dalam gambar pembanding. Kata “jilbab” melambangkan suatu agama spesifik, dan penyematan kata tersebut di depan gambar Ratu Atut rasanya seolah merendahkan saya dan pemakai jilbab lainnya yang berusaha menjadi lebih baik dan menuruti perintah agama. Paling tidak, itu yang saya rasakan. Mungkin yang lain tidak. Namun ada orang seperti saya yang jelas tersinggung melihat atribut yang saya kenakan juga diidentikkan dengan sosok yang korup. Pencatutan Ratu Atut sebagai sample, itu yang saya khawatirkan mengarah kepada fenomena representativeness. Masyarakat diajak berpikir one size fits all, satu contoh mencakup keseluruhan umat.

Nah, di sini saya mau menekankan pentingnya untuk tidak terjebak dalam pola pikir representatif tersebut. ISIS ajaran Islam, bertato berarti preman, keturunan Tiongkok berarti dagang, orang Padang berarti bikin rumah makan Padang, orang Bekasi berarti tinggal di planet lain #eh, nggak juga kan? Ada kalanya kita terjebak untuk langsung mengambil kesimpulan cepat akan sesuatu tanpa mempertimbangkan lebih jauh dari berbagai sisi. Saya menyadari bahwa saya tidak ingin memiliki anak-anak yang mudah menghakimi. Saya ingin memiliki anak-anak yang berpikiran terbuka dan mampu menilai baik buruk dari hasil analisis dan observasi mereka. Agar bisa mendidik seperti itu, saya pun masih dalam proses belajar dan harus rajin mengingatkan diri untuk tidak hanya melihat segala sesuatu dari satu sisi ataupun satu sample.

Sosok bu Susi seharusnya menjadi motivasi yang menjelaskan bahwa walaupun tidak berpendidikan tinggi, seseorang bisa menjadi pengusaha sukses kok! At the end of the day, your attitude determines your altitude. Di sisi lain, sosok Ratu Atut juga membuka mata umat Islam di Indonesia bahwa kita masih harus banyak berbenah. Ayo jadikan jilbab sebagai pelindung yang sebenar-benarnya, pelindung hati dan pelindung diri. Umat Islam mendapatkan ajaran yang sangat mulia, yuk tunjukkan! Again, at the end of the day, our attitude determines our altitude. 🙂

 

Sumber: Shefrin, H. 2007. Behavioral Corporate Finance: Decisions that Create Value. McGraw-Hill Irwin.

Cerita Kilat 2 : Ujian Pertama di Groningen

Hal yang saya hampir lupa selama dua bulan pertama saya exchange adalah kenyataan bahwa saya harusnya belajar. Hahaha mau bagaimana lagi, kesempatan exchange ke Eropa membuat satu setengah bulan saya penuh jalan-jalan, setiap ada tawaran pergi saya hampir pasti ikut. Tapi bukan tawaran ke bar kok, apalagi dugem 😛

Minggu kemarin, saya baru sadar tujuan saya ke Groningen ini adalah untuk belajar. Biasanya hidup saya diisi dengan jalan-jalan, masak, skype, nonton serial, main ke tempat temen, masak lagi, tidur… nggak ada agenda belajar. Panik sekali saya minggu lalu ketika sadar minggu ini saya ujian dan belum belajaaar! Lalalala akhirnya saya pun ngebut belajar, semoga saja hasilnya tidak seburuk yang saya khawatirkan yah.

Di RuG (University of Groningen) tempat saya exchange, mahasiswa harus daftar untuk bisa ikut ujian mata kuliahnya. Tidak seperti di ITB ketika saya daftar mata kuliah dan otomatis terdaftar di ujian. Setelah mendaftarkan diri melalui website, saya akan mendapat pemberitahuan via email bahwa saya telah terdaftar sebagai peserta ujian. Selanjutnya cukup pastikan bahwa saya datang tepat waktu di gedung khusus ujian RuG, Aletta Jacobshal. Interiornya serba oranye, seolah-olah mengisyaratkan ujian harusnya dilalui dengan ceria! (atau hanya saya yang berpendapat begitu? ._. ) Hal yang menarik adalah, saya baru tahu bahwa dalam satu ruangan bisa terdapat dua ujian sekaligus yang berlangsung! Jadi di ruangan saya tadi berlangsung ujian mata-kuliah-entah-apa juga, hehe. Nah, saya dan sekitar 6 anak exchange lainnya masuk ke ruangan dan mulai memasukkan password masing-masing ke komputer di meja. ‘Menarik nih,’ pikir saya, ‘ujiannya langsung ketik. Tahu gitu nggak bawa pulpen.’ Ketika saya memasukkan nama dan student number saya, tiba-tiba muncul pemberitahuan bahwa saya tidak bisa ikut ujian! Hua ujian sudah mulai dan saya masih panik nggak bisa buka soal. Saya panggil pengawasnya, lalu meminta saya untuk didaftarkan dalam ujian. Problem solved!

…. I guessed, at first. Saya sudah super lega dan siap mengerjakan ketika soal muncul di layar….. dalam bahasa Belanda. -____- Hadeuh ini bagaimana ini satupun saya nggak ngerti ._. Saya tanya lagi ke pengawasnya, dan jawaban mereka simpel sekali.

 

“I think you are in the wrong exam room.”

 

… Saya mau loncat saja ke kanal.

Cerita Kilat 1

Saya lagi jalan di koridor asrama ketika teman Jerman saya menyapa dan tiba-tiba cerita. Kita panggil dia A, saya N.

A: “Gara-gara lo bawa nasi, gue jadi inget temen Asia gue (demi keamanan bersama saya tidak bisa menyebutkan spesifik negaranya)”
N: “Kenapa?”
A: “Pas temen Kanada gue lagi makan jeruk, si temen Asia gue tiba-tiba bilang, ‘I want that piece!’, kayak, ‘exactly that piece!‘, dan di barat nggak sopan kalau lo minta pakai cara kayak gitu hahaha”
N: “Loh di Asia juga nggak sopan kok minta jeruk kayak gitu, kok dia gitu yah?”
A: “Hmm, nggak tahu, mungkin gara-gara kemampuan bahasa Inggrisnya?”
N: … (paraaaah hahaha sekuat itu yah stereotype kemampuan bahasa Inggris orang Asia di mata bule barat :’) )

Gara-gara kejadian ini, jadi inget pas saya di awal datang ke Groningen. Saya dan Grace, sesama teman dari Indonesia, kenalan sama temen satu koridor, orang Ireland. Kita sebut dia B.

B: “Where are you from?”
N: “Indonesia”
B: “Whoa, you guys don’t look like typical Asian. Your English are good. I mean, I can understand what you guys are saying
N: ….

Pesan moral dari dua cerita ini, yuk kita belajar bahasa Inggris lebih giat biar nggak jadi permanent stereotype! 😛

Kuliah di Negeri Orang: Full Time vs Exchange

Super cool!

What I Want You to Know

Ritsumeikan Asia Pacific University, Februari 2014 Ritsumeikan Asia Pacific University, Februari 2014

Alhamdulillah selama masa kuliah s1, saya berkesempatan untuk merasakan kuliah di dua tempat yang berbeda dengan status yang juga berbeda. Post ini sekedar sharing pengalaman yang saya alami selama kuliah di negeri orang baik sebagai full time student ataupun exchange student. Semoga bermanfaat!

1. Pendaftaran

Untuk proses pendaftaran, tentunya masing-masing universitas dan negara punya sistem yang berbeda-beda. Kadang ada orang yang bertanya ke saya, “gimana sih cara kuliah di luar negeri?”. Hm. Itu pertanyaan yang jawabannya bisa lebih panjang dari tugas kuliah. Pesan saya sih, rajin-rajin lah mencari informasi dari internet atau sumber lain seperti kedutaan. Bertanya ke teman yang berpengalaman tentu boleh-boleh saja, tapi usahakan saat bertanya sudah ada gambaran mau belajar apa di negara mana.

Saya sendiri mendaftar ke Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) lewat kantor perwakilan yang ada di Indonesia. Persyaratannya waktu itu (tahun 2011) adalah nilai TOEFL, rapor dan ijazah…

View original post 952 more words

Greetings!

Selamat malam! Sebentar saya bersih-bersih blog dulu, sudah lama yah tidak dikunjungi. Dikunjungi sih, tapi belum diisi. Kayak rumah yang didatangi berkali-kali tapi nggak ditambah-tambah isinya. Apa sih Nasha jadi ngelantur kemana-mana kan ampun.

Sudah banyak sekali (banyaaaaak sekali) yang terjadi selama satu tahun belakangan ini dan saya belum sharing apa-apa ._. Jadi di sela-sela waktu, saya sekarang mencoba untuk menambah perabotan rumah di dalam rumah blog saya ini, sambil sharing hal-hal yang saya harap dahulu ada orang yang sharing 😛 Doakan semoga saya ingat yah, bismillah.

Ada beberapa list yang ingin sekali saya jadikan tulisan:

  1. Astra1st Development Program dari PT Astra International, Tbk.
  2. Unilever Future Leaders’ League (di Indonesia dan Singapura)
  3. Proses membuat visa
  4. Peluang-peluang exchange gratis (terutama dari ITB yang memang banyak! Ga pake sekali karena nggak terlalu banyak hehe maaf 😛 )
  5. SBM ITB (ini bahkan utang ke orang nggak selesai-selesai aduuuh maaf sekali kak Bening, setiap ditulis nasha selalu hapus lagi ngerasa kurang mewakili ._. )
  6. Nostalgia Insan Cendekia
  7. Cerita-cerita menarik random
  8. Apapun yang kepikiran

 

Berhubung saya bingung, ada usul cerita spesifik seperti apa yang diharapkan kalau saya menulis tentang hal-hal di atas (atau hal lainnya)? Saya bingung. Contohnya saja tentang SBM ITB, saya bingung mau cerita bagian mananya, nih? Kurikulum? Kemungkinan beasiswa? Prospek karir? Yang baik-baik atau kenyataannya (kenyataan bisa jadi lebih baik loh haha)? Yang gosip atau yang fakta?

 

Mungkin Anda punya usul? 🙂

About Forgiving

If I had one wish to be granted, I definitely will not ask the God to turn back the time, no matter how much I want it, because turning back the time won’t do anything. Turning back time doesn’t teach anything. I make mistakes. Lots of them. So do you. We all do, and that’s what keeps us for being a human.

Mistakes… exist for a lesson, a reflection, throw you to the well of depression and regret.

When you one day transform into a storm, ruining the branches of a big tree you love, striking it with thunder and leave nothing but disappointment of a big tree you care for every day.

You know that the tree suffers. You cry seeing it suffers. And the only way you apologise is by giving all of your soft raindrops seep into the single cell of the wounded tree. Each of it. Slowly. With the hope that one day, a new branch will grow, and healthy leaves and flowers whispering the message of forgiveness.

Like an erased whiteboard, the mark is still there, but you just wish to rewrite the good memories with your ink. Some might be bad again, and that’s why you keep an eraser on the other hand, just in case.

But you know the real wound stays in your heart. The storm messed up your clouds, wounded the droplets, and hit the wind. It hurts so bad that you yourself can’t forgive. That you have once transformed into a storm, a typhoon, a tornado. And here you are, a drizzle who believes that even God forgives better than yourself. Deep down, it is you who curses. Apologising sometimes only becomes another reason for you to postpone your self forgiveness. That you believe others haven’t forgiven you, then you wait and stop and keep cursing yourself.

You just wish there was a way. So that you can jump out of the well and walk on the path that leads you. To the most beautiful meadow full of flowers and butterflies and… happiness. That’s it. You just keep your deal with God to be a better person. And you never ask for more. Ever.

 

 

 

A reflection after one little pep talk with IC new students.

Random Pops

So I was bored doing my project and here I am, doing nothing (well, typing) in a 9m2 room I might leave this July. This is so emotional, I can’t believe it is about the time to leave this lovely annually decorated room 😥

Anyway, instead of watching other 2 Broke Girls videos or eating proper dinner or doing my big project (yep I know I should be doing the last one but oh pleeeease), let me have some random questions, which I will be most likely not answering myself ahaha. Here I start:

  1. Who invented tempeh? Seriously, especially fried tempeh. Who was smart enough to see that oh-the-soy-has-mushrooms-covering-it-let’s-just-fry-it and voila! Delicious, full of nutrition, aaaaand super famous tempeh!
  2. Why does Prabowo love horses so much? How can a horse costs 3billion rupiah while I’m here feeling super grateful if only I could have 0.5% of that amount of money? (Now this is obvious, anyone would say exactly the same as you do, Nasha). This goes to my next question…
  3. WHY IS RAISA SO BEAUTIFUL? Well this is unrelated and she’s a public figure, Nasha, BUT WHY??
  4. What happened with Jokowi that he finally agreed on running for the election? Well this kinda scares me because that means Indonesia do lack of qualified loved wealthy candidates and leaders.
  5. How can 1 like on Facebook mean 1 prayer? How??
  6. Where is the safest place possible if World War III does happen? I might prepare to live there right after graduation.
  7. What will happen if I name my future daughter after Sahara and she knows that there was a Madam Sahara the great fortune-teller back when I was a teenager?
  8. Why is there no Critical Reading as a compulsory course of the curriculum for high schools in Indonesia? If there exists, I might find the posts shared on Facebook less dumb, I guess (which I refer to black campaign during the election period), because people would recheck everything they want to share. Okay this question has little correlation with the latter, but still I do hope so.
  9. If anyone sees a Moslem extremist who put a banner of “Do not celebrate other religions’ special moments” on a street and thinks that it is dumb to put the banner (which it is) plus insulting, why would he/she takes a photo of that banner and post it on social media? WHY would even other people repost it? Now who’s spreading the hate? This happens every year and I keep asking -_-
  10. Why is there no World Pasta Day or World PS4 Day? Or am I missing something? (brb googling) Oh yeah there is, but not in Indonesia 😦

 

Thank God today we have Google.